70 Persen Tak Lulus Karena Bahasa Indonesia

DENPASAR, KOMPAS — Bukan Matematika, bukan pula Bahasa Inggris, melainkan momok para siswa yang tidak lulus di Bali justru berasal dari mata pelajaran Bahasa Indonesia, yang sejak kecil telah diajarkan oleh orangtua. Ironisnya, 70 persen siswa yang tidak lulus gara-gara Bahasa Indonesia kebanyakan berasal dari sekolah negeri.

Fenomena siswa kesulitan mengerjakan soal Bahasa Indonesia ini sebenarnya bukan hal baru. Pada tahun-tahun sebelumnya juga banyak siswa yang gagal dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Usut punya usut, salah satu faktor yang menyebabkan anjloknya nilai Bahasa Indonesia karena sebagian siswa berpikir lebih baik menekuni Bahasa Inggris daripada Bahasa Indonesia karena lebih menjanjikan pada masa mendatang.
Category: 0 komentar

Ibu-ibu... Kapan Mau Belajar Matematika?

JAKARTA, KOMPAS - Matematika sampai saat ini masih menjadi momok menakutkan bagi sebagian orang. Tidak hanya di kalangan siswa, bahkan orang tua pun terkadang mengernyitkan alis ketika mendengar mata pelajaran ini.
Namun, untuk mengubah paradigma tersebut saat ini bukanlah hal yang sulit. Pasalnya, sudah ada cara baru untuk membuat Matematika menjadi pembelajaran yang menyenangkan. Salah satunya adalah melalui metode Matematika Gasing atau Gampang Asyik dan Menyenangkan.
Category: 0 komentar

Mendiknas Bakal Rombak Kurikulum

JAKARTA, KOMPAS — Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh mengatakan, Kementerian Pendidikan Nasional berencana merombak kurikulum beberapa mata pelajaran pada pendidikan dasar dan menengah.
"Belum saya setujui. Sekarang ini kurikulum dikembangkan oleh pihak sekolah, ke depan akan kita tata lagi. Beberapa materi dipegang secara nasional, sementara yang lain diserahkan kepada daerah, provinsi, atau kabupaten kota," kata Nuh, Jumat (6/5/2011) siang di Jakarta.
Nuh mengatakan, beberapa mata pelajaran yang akan dikendalikan secara nasional adalah Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Sejarah, Bahasa Indonesia, dan Matematika.
Category: 0 komentar

Beauty of Math ...

Sesaat "Terbawa arus" pemberitaan seputar kegiatan "guru", tersentak saat ingat satu tema kehadiran tempat curahan minat. Berharap rasa sesal penebus lalai untuk beberapa waktu ke sana, coba paparkan "Keindahan Matematika" pengundang minat serta bakat bagi anda yang berkenan ....

Category: 0 komentar

Mendiknas: Pecat Kepala Sekolah Curang

JAKARTA, KOMPAS — Menteri Pendidikan Nasional mengatakan, merekomendasikan pelaksanaan ujian nasional ulang kepada kepala daerah yang di daerahnya didapati kecurangan. Pernyataan Mendiknas ini menanggapi berita adanya kebocoran naskah ujian nasional yang terjadi di Kabupaten Pahuwatoo, Provinsi Gorontalo, seperti diberitakan Kompas.com pada 26 April 2011.
"Di Gorontalo, yang curang tidak hanya satu orang, tetapi ada unsur pimpinan sekolah, maka harus di cek ke lapangan. Kalau itu betul, maka UN harus diulang dan itu tak masalah," kata Nuh, Rabu (27/4/2011) di Jakarta.
Nuh melanjutkan, segala pelanggaran harus diberi sanksi. Termasuk rekomendasi Kemdiknas pada kepala daerah agar memecat kepala sekolah yang terbukti melakukan kecurangan. "Ibarat sepak bola, pelanggaran harus diberi penalti. Yang pertama memberi sanksi adalah kepala daerah karena yang mengangkat dan memberhentikan adalah kepala daerah. Tetapi kementerian telah memberikan rekomendasi, kalau terbukti, maka harus diturunkan dari kepsek. Tidak pantas dia menjabat sebagai kepala sekolah jika melakukan kecurangan," katanya.
Category: 0 komentar

Berorganisasi, Bikin Cerdas dan Berguna

KOMPAS - Saat anak memiliki kegiatan ekstrakulikuler (ekskul) di sekolah, terlibat dalam organisasi siswa atau berkegiatan di luar rumah, ini pertanda positif bagi pengembangan dirinya. Sebagai guru atau orangtua, tugasnya adalah memberikan dukungan.
Pakar Pendidikan, Prof Dr Arief Rachman MPd, menyarankan sebaiknya anak mulai dilibatkan dalam kegiatan kolektif sejak usia TK. Anak yang berorganisasi sejak kecil memiliki kepribadian lebih efektif dan efisien. Anak juga akan tumbuh menjadi pribadi cerdas dan berguna, bukan sekadar pintar di sekolah.
"Anak mulai TK perlu terlibat dalam kegiatan bersifat hobi, kegiatan yang sifatnya kolektif. Bisa berupa drama, menari, pentas musik, menggambar, sesuatu yang digemari dan menjadi talentanya. Libatkan anak dalam berbagai festival, bukan kompetisi. Bebaskan mereka menampilkan dirinya dengan pendekatan heterogenitas, bukan homogen. Lalu, berikan apresiasi atas keberagaman ini. Kompetisi cenderung menggunakan pendekatan standar seragam, sementara anak akan lebih berkembang positif jika sejak kecil diajarkan untuk berbaur dalam keberagaman," jelas Arief kepadaKompas.com di Jakarta, pekan lalu.
Category: 0 komentar